Tiket konser dan 50 ribuan

 

Kadang tanpa kita sadari, seringkali kita membuat keputusan-keputusan yang jika dipikir-pikir sebenarnya adalah keputusan yang aneh namun bagi otak kita merupakan keputusan yang wajar dan diambil dengan penuh kesadaran.

 

Bayangkan anda mempunyai uang senilai Rp.50.000 dan sebuah tiket konser yang juga senilai Rp.50.000 dalam dompet anda. Ketika tiba di gedung konser, anda baru sadar bahwa tiket itu hilang dalam perjalanan. Akankah anda membeli tiket baru langsung di loket lokasi konser? Kebanyakan orang akan mengatakan tidak.

 

Sekarang bayangkan anda memiliki 2 lembar uang yang masing-masing senilai Rp.50.000 dalam dompet anda, ketika sampai di gedung konser anda terkejut karena selembar uang anda telah hilang dalam perjalanan. Akankah anda tetap membeli tiket konser? Kebanyakan orang akan menjawab ya.

 

Kita tidak usah menjadi pakar logika untuk melihat bahwa dua contoh diatas identik dalam semua hal yang dianggap penting, persamaannya adalah dalam kedua kasus anda telah kehilangan sebuah kertas senilai Rp.50.000 (sebuah tiket atau selembar uang), dan dalam kedua kasus, anda harus memutuskan entah untuk membeli tiket konser atau tidak.

 

Perbedaan kejadian tersebut oleh otak kita, dijelaskan oleh Daniel Gilbert (seorang guru besar psikologi Harvard University) sebagai berikut :

Ketika kita kehilangan uang lembaran 50 ribuan kemudian menimbang kemungkinan membeli sebuah tiket konser, konser tersebut tidak memiliki cerita masa lampau, maka kita dengan benar membandingkan harga tiket konser dengan kemungkinan-kemungkinan lain (“Haruskah saya menggunakan 50 ribu ini untuk menonton konser, atau apakah tidak sebaiknya saya gunakan uang ini untuk membeli buku baru saja?”)

Akan tetapi ketika kita kehilangan sebuah tiket yang telah kita beli dan memikirkan kemungkinan “menggantinya,” konser menjadi memiliki masa lampau, sehingga kita memperbandingkan harga tiket konser sekarang (naik menjadi 50.000 x 2 = Rp.100.000 menurut otak) dengan harga tiket sebelumnya yang nilai sebenarnya hanya senilai 50 ribu dan tiba2 kehilangan hasrat untuk menyaksikan pertunjukkan yang tiba-tiba menjadi dua kali lipat lebih mahal.

 

Dari cerita Dan Gilbert diatas, maka anda pasti sudah bisa menebak bahwa “keanehan” otak manusia inilah yang dimanfaatkan para pemasar untuk mencari jalan yang kreatif untuk memasarkan produknya. Saya sering lihat iklan bertuliskan “hanya 99.999 rupiah.” Sebenarnya seberapa sih bedanya harga tersebut dengan 10.000 rupiah, namun percaya tak percaya banyak orang menganggap harga tersebut sangat lain.

 

**cerita saya ambil dari buku Stumbling on Happiness yang ditulis oleh Dan Gilbert, dengan sedikit modifikasi pada mata uang yang digunakan :-)

5 comments… add one

  • wah bingung juga jawabnya, soalnya belakangan ini kalo mo nonton konser aku tinggal nunjukin kartu persku dan melengganglah masuk lokasi konser dan kartu itu kyknya kecil banget kemungkinan hilangnya mengingat kartu itu sangat penting untuk menunjang pekerjaanku

  • ya itu enaknya kalo punya kartu pers. kalo saya pake kartu tanda penduduk malah diusir security :-)

  • mending manjat tembok bersama komang gimbal untuk menonton roy jeconiah dan john paul ivan!

    “pelangiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…!!!”

    oye!

  • yudi

    hehe bonek2 seperti anda (dan saya) ini yang merupakan anomali ilmu psikologi hehe…

  • ya, kadang kita bertindak / mengambil keputusan spontan tanpa berpikir untung ruginya. hanya mengikuti dorongan / hawa nafsu semata. ketika hal tersebut hilang kita baru sadar akan apa yang telah kita lalaikan…thx

Leave a Comment