Waktu smp dulu, hati ini begitu senang apabila jam terakhir ga ada guru yang masuk. Siswa akan diperbolehkan pulang lebih dulu, biasanya kami sekelas serempak pulang jam 16.30 (saya dulu smp masuk siang).
Dari smp 1 yang berada di jalan surapati,saya mesti berjalan kaki dulu menuju terminal Kreneng untuk naik angkot (kalo disini namanya bemo). Tepat di belokan jalan dari jalan melati, hati ini akan sangat berbunga-bunga (perasaan yang hampir sama dengan ketemu cewek cakep
) apabila ketika melongok ke saku baju, masih tersisa uang sebesar seribu rupiah
Dengan hati riang saya akan berjalan kaki menuju terminal yang sudah dekat. Dari ujung jalan sudah terlihat tenda biru mas Didik, si penjual mie ayam. Saya pun biasanya langsung duduk manis sambil memesan semangkok mie ayam dan segelas es teh.
Selesai makan hidangan yang cukup lezat bagi seorang anak smp yang kurus kering dan kepanasan
saya pun bergegas membayar sebesar Rp.800,- Rinciannya, enam ratus rupiah untuk semangkok mie dan dua ratus rupiah untuk segelas es teh manis. Uang kembalian sebesar 200 rupiah pun bisa digunakan untuk naik angkot yang tarifnya juga 200 rupiah dari kreneng ke terminal batubulan (saat itu). Murah ya?
Murah dengan harga sekarang, kalo dulu segitu mah harga standar
Rupanya saya pun sempat merasakan pengalaman dengan seribu rupiah yang menyenangkan tersebut setiap sore. Dulu!!
Kalo sekarang uang seribu dah hampir ga bisa lagi dipake beli seporsi makanan. wah enaknya dulu..
Lamunan sesaat saya tentang masa smp pun hilang ketika bapak tukang parkir mengambil uang seribuan dari tangan saya