“To finish first, first you must finish”
(Ron Dennis, boss F1 McLaren)
Ada pepatah tua mengatakan “The only free cheese you can find only in the mouse trap.”
Wow..sebegitu seramkah dunia ini sekarang, sehingga tak ada lagi yang gratis di dunia ini. Apabila pepatah tadi kita hubungkan dengan keinginan untuk meraih pencapaian tertentu misal-ingin kaya, ingin pintar, ingin punya bentuk tubuh yang indah, ingin mendapat rangking 1, ingin mendapat kenaikan gaji, ingin mendapat penghargaan, ingin dapat berhenti merokok, ingin dapat pacar cantik, ingin punya mobil mewah, ingin jadi pilot, ingin bisa berbahasa perancis, dsb..dsb..dsb….-pastilah untuk mencapainya perlu pengorbanan atau bahasa lainnya perjuangan. “Yud, kalo gitu aja si kita-kita dah pada tau dari jaman kuda gigit besi”.
“The pessimist sees the dificulty in every opportunity; the optimist sees the opportunity in every dificulty”
(L.P.Jacks)
“Life is ten percent what happens to you and ninety percent how you respond it”
(Lou Holtz)
Kadang kita membeli buku mahal yang cukup sulit kita pahami karena kapasitas kita yang belum sampai untuk memahami keseluruhan isi buku tersebut. Saya tertarik untuk membeli sebuah buku yang memaparkan 11 mindset yang katanya berguna untuk membaca peluang bisnis masa depan dan menuai profit. Sepintas memang isinya menarik, namun karena belum terbiasa dengan cara penyampaian si penulis maka saya belum mampu menangkap maksud tulisan pada buku ini secara detail. Tulisan dibawah ini saya kutip dari buku MINDSET karya John Naisbitt yang baru saya baca sebagian.
Orang secara budaya dikondisikan untuk benar. Orang tua selalu benar. Guru selalu benar. Bos selalu benar. Siapa yang benar menentukan apa yang benar. Suami-Istri bertengkar soal masalah-masalah yang intinya justru terlupakan akibat keduanya berebut menjadi pihak yang benar.
Partai-partai politik berpendirian harus benar. Seberapa sering sebuah partai politik menerima sikap pihak lain? Bayangkan jika semua energi yang dicurahkan untuk membuktikan pihak lain salah-dan kita benar-disalurkan untuk memikirkan apa yang terbaik bagi apa pun. Yang lebih parah lagi, keharusan menjadi benar merupakan sebuah rintangan dalam pembelajaran dan pemahaman. Keharusan menjadi benar menghambat pertumbuhan anda, karena pertumbuhan tidak akan terjadi tanpa mengubah, mengkoreksi dan mempertanyakan diri sendiri.
Jika anda harus benar, anda menempatkan diri sendiri dalam sebuah benteng tertutup. Tapi begitu anda merasakan hebatnya tidak harus benar, anda akan merasa seperti berjalan melintasi sebuah padang terbuka, dimana cakrawala terbentang luas dan kaki anda bebas melangkah kemana saja.
“Saya akan melakukannya setelah saya……….”
“Jika saya sudah berumur …. tahun, baru saya akan melakukannya”
“Biarkan orang lain melakukannya dulu”
“Ah, nanti saja saya ambil peluang usaha ini”
“Saya tidak berani melakukannya sekarang”
Kata-kata tadi sering terucap ketika anda merasa belum benar-benar siap untuk memulai sesuatu. Anehnya kata-kata tersebut akan diikuti oleh kata-kata dibawah ini dalam beberapa waktu kemudian :
“Seandainya sejak awal saya memulainya”
“Andai aku melakukannya 10 tahun yang lalu”
“Seharusnya tak kubiarkan kesempatan ini direbut orang lain”
“Bila saja dahulu peluang itu saya ambil”
“Bodohnya aku karena dulu ketakutanku sangat tak beralasan”