Belajarlah dari kesalahan. Ternyata itu tak sepenuhnya berlaku. Kita (atau kalo ga terima dengan kata “kita” maka gunakan saja contoh saya) terbiasa untuk selalu mengulang-ngulang kesalahan. Sering kita mengulang-ulang kesalahan walau tau bahwa itu merugikan.
“berhentilah merokok,” kenyataannya para perokok ga berhenti-berhenti walau tau resikonya.
“giat belajarlah, agar lulus dengan nilai bagus,” kenyataannya malah hanya main terus walau tau resikonya adalah tidak lulus.
“jangan sering-sering minum minuman keras,” kenyataannya tetap saja dilakukan, walau tau bisa membahayakan hati..
“jangan suka ikut balapan liar,” kenyataannya mereka-mereka tetep aja kebut-kebutan walau tau resiko kecelakaannya besar.
“gosoklah gigi sebelum tidur, apalagi jika habis makan yang manis-manis,” kenyataannya malah ga dilakukan karena malas.
Dsb, dsb….
Lihatlah contoh diatas, manusia malah mengulang-ulang kesalahannya secara sadar. Hanya bisa mulai berubah bila ketika ia terbangun dan kemudian :
- Tersadar bahwa dia terkena kanker paru-paru
- Tersadar bahwa dia tidak lulus.
- Masuk rumah sakit karena hatinya pecah.
- Tersadar bahwa mesti berada di kursi roda untuk waktu yang lama karena kecelakaan akibat balapan liar.
- Sakit gigi yang tak tertahankan karena giginya bolong.
- Dsb, dsb, dsb….
Manusia banyak yang hanya belajar dari rasa sakit, kesalahan tak membuatnya berubah, namun rasa sakit membuatnya terpaksa berubah. Hanya sebagian orang yang bisa belajar dari kesalahannya, sisanya hanya belajar dari rasa sakit.
Ayo mulai belajar dari kesalahan, jangan sampai rasa sakit itu datang duluan baru kita mau berubah
Artikel-artikel motivasi ternyata banyak benernya, jadi malu sendiri karena sering “ngerasa”