Sering saya membaca pada buku-buku motivasi bahwa banyak orang mengeluh mengapa mereka hanya termotivasi sesaat setelah menghadiri seminar-seminar motivasi atau sesaat setelah membaca buku-buku atau artikel-artikel motivasi. Motivasi dalam diri terasa menggebu-gebu setelah menghadiri seminar ‘bapak dahsyat’ atau ‘bapak luar biasa’, namun motivasi itu menguap dan hanya bertahan selama sehari, seminggu, atau hanya sebulan.
Hal itu saya rasakan sendiri, setelah membaca buku bagus atau sehabis membaca tutorial dari para master, maka seketika diri ini akan merasa sangat bersemangat, namun semangat itu hilang dalam beberapa minggu. Untuk membuatnya menyala kembali maka saya akan kembali mencari bacaan penyemangat. Kenapa ya..?
Dalam artikel sebelumnya dibahas bahwa kita akan sangat bersemangat bila memiliki motivasi yang timbul secara natural. Bagaimana agar kita bisa segera termotivasi secara mudah, natural dan tentunya dalam waktu sesingkat-singkatnya? ( cieee kayak proklamasi kemerdekaan ajah
)
Jika temen-temen suka membaca buku-buku motivasi maka anda mungkin pernah membaca bahwa setiap manusia memiliki ‘tombol rahasia’ yang dapat membuat seseorang termotivasi seketika. Bila tombol tersebut ‘ditekan’ maka secara otomatis orang tersebut akan timbul motivasi dalam dirinya dan akan segera melakukan tindakan untuk mewujudkan keinginannya. Dimanakah bagian itu? Maukah kauu tauuu…? ( loh ko jadi lagunya Ari Lasso hehe…
)
Tombol rahasia yang dimaksud ternyata dapat dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu :
1. Motivasi yang timbul karena keinginan untuk meraih suatu pencapaian
2. Motivasi yang timbul karena keinginan untuk menghindari penderitaan.
Mari kita bahas satu persatu,
Pertama adalah motivasi yang timbul karena keinginan untuk meraih suatu pencapaian.
Bentuknya umumnya adalah suatu emosi yang menyenangkan. Bila tombol ini ditekan maka akan merangsang anda untuk segera mengambil tindakan. Misal, temen-temen pasti suka jika punya banyak teman sesama blogger. Karena keinginannya adalah agar memiliki banyak teman maka dia pasti akan sering-sering mengunjungi blog orang lain, bertukar alamat email atau sering sering update kontennya untuk berbagi cerita dsb. Kegiatan itu akan otomatis dilakukannya karena terdorong oleh keinginannya untuk berbagi dan menambah teman lewat blognya.
Contoh lain misalnya, si A sangat ingin menjadi seorang master dalam bisnis internet. Dia tidak ingin hanya menjadi nubie bahagia kayak si yudi
maka dia pasti akan segera mengambil tindakan untuk mendekatkan dirinya pada tujuannya, misal dengan rajin membaca tutorial, berkunjung ke forum forum, tanya sana sini, praktek sana praktek sini, testing sana testing sini, dsb
Intinya keinginannya dalam meraih sesuatu akan mendorongnya untuk mengambil berbagai macam tindakan untuk makin mendekatkan dirinya pada tujuannya.
Kedua adalah motivasi yang timbul karena keinginan untuk menghindari penderitaan.
Kalo yang ini sepertinya tidak usah dijelaskan lagi. Faktor ini mungkin merupakan pemicu yang paling ampuh untuk mencapai suatu tujuan. Misal, si B termotivasi untuk selalu belajar segala jenis kesempatan usaha dan memperbanyak praktek agar bisa memiliki pendapatan tambahan yang lumayan. Hal itu dilakukannya karena rasa takutnya akan kemungkinan bahwa dirinya tidak akan mempunyai cukup tabungan di masa depan.
Si C yang belum punya TV rela ke rumah temannya jam 11 malam, naik sepeda, ga bawa senter, lewat kuburan dan ga pake sandal pula
Hal itu dilakukan karena takut ga bisa menonton tim favoritnya berlaga di EURO 2008.
Si D terpaksa mandi tiap hari (walaupun sebelumnya dia ga suka mandi dan jarang mandi) karena rasa takutnya bila ditolak oleh cw cakep yang rencananya akan segera dia ‘tembak’
Si E belajar keras selama SMA karena takut beasiswa yang diidam idamkannya selama ini melayang. Dsb…
Kuncinya berarti adalah kita mesti menemukan tombol kita masing-masing dan menggunakannya sebagai pemicu agar kita segera ‘take action’ untuk mendekatkan kita pada tujuan masing-masing.
Nonton Italy lawan Belanda dulu ah…
update : italy keok 0-3 lawan belanda ![]()
ko bisa-bisanya di babak kedua Italy memperagakan total football ala belanda, sedangkan belanda mempraktekkan gaya bertahan total sambil sesekali melancarkan counter attack berbahaya ala Italy. Ko kebalik yah…