Keharusan menjadi benar menghalangi pikiran anda

Kadang kita membeli buku mahal yang cukup sulit kita pahami karena kapasitas kita yang belum sampai untuk memahami keseluruhan isi buku tersebut. Saya tertarik untuk membeli sebuah buku yang memaparkan 11 mindset yang katanya berguna untuk membaca peluang bisnis masa depan dan menuai profit. Sepintas memang isinya menarik, namun karena belum terbiasa dengan cara penyampaian si penulis maka saya belum mampu menangkap maksud tulisan pada buku ini secara detail. Tulisan dibawah ini saya kutip dari buku MINDSET karya John Naisbitt yang baru saya baca sebagian.

Orang secara budaya dikondisikan untuk benar. Orang tua selalu benar. Guru selalu benar. Bos selalu benar. Siapa yang benar menentukan apa yang benar. Suami-Istri bertengkar soal masalah-masalah yang intinya justru terlupakan akibat keduanya berebut menjadi pihak yang benar.

Partai-partai politik berpendirian harus benar. Seberapa sering sebuah partai politik menerima sikap pihak lain? Bayangkan jika semua energi yang dicurahkan untuk membuktikan pihak lain salah-dan kita benar-disalurkan untuk memikirkan apa yang terbaik bagi apa pun. Yang lebih parah lagi, keharusan menjadi benar merupakan sebuah rintangan dalam pembelajaran dan pemahaman. Keharusan menjadi benar menghambat pertumbuhan anda, karena pertumbuhan tidak akan terjadi tanpa mengubah, mengkoreksi dan mempertanyakan diri sendiri.

Jika anda harus benar, anda menempatkan diri sendiri dalam sebuah benteng tertutup. Tapi begitu anda merasakan hebatnya tidak harus benar, anda akan merasa seperti berjalan melintasi sebuah padang terbuka, dimana cakrawala terbentang luas dan kaki anda bebas melangkah kemana saja.

Sebelum membaca buku, menyanggah ide, membantah pendapat, atau apapun yang ‘mungkin’ bertentangan dengan opini kita, ada baiknya untuk mencoba mendengarkan atau menyimak dahulu secara utuh maksud dari si pemberi pernyataan. Mungkin saja dengan begitu kita bisa mendapat ide dan peluang baru yang tak kita sangka bisa kita peroleh. Kadangkala kita skeptis karena kita kurang paham. Mari kita selalu mau belajar dan berkembang agar Indonesia kita tercinta semakin maju.

7 comments… add one

  • yang paling susah kan emang mengakui klo kita salah. . .

  • Setuju mas…. tapi yang terjadi sekarang ini, yang paling kuatlah yang paling benar.
    Salam kenal juga mas yudi 😀

  • yudi

    sipp
    bener juga
    yang kuat bisa buat yang salah jadi bener

  • iya sih, jalan pikir tiap orang berbeda..

  • Saya pikir, ketika seseorang berbicara tentang kebenaran maka seyogyanya kebenaran hakiki lah yang dimaksud, bukan sekedar kebenaran versi orang per orang yang selalu terkotakkan dalam satu perspektif serta pengalaman yang mendasarinya.

    Sebelum membaca buku, menyanggah ide, membantah pendapat, atau apapun yang ‘mungkin’ bertentangan dengan opini kita, ada baiknya untuk mencoba mendengarkan atau menyimak dahulu secara utuh maksud dari si pemberi pernyataan.

    Pelajaran pertama tentang berbicara menurut Bukunya Larry King dalam “Seni berbicara” adalah mendengarkan. Saya sepakat dengan pendapat anda dan juga pendapat Larry King tersebut, sebab tanpa mendengarkan secara utuh mungkin kita tidak bisa mengetahui maksudnya secara menyeluruh. Mendengarkan penuh pun terkadang juga bukan jaminan, jika kita tidak benar-benar mendengarkan.

    Salam kenal…

  • hmm…
    Kalo bukan kebenaran, apa yg menjadi guide kita ?
    rel kita dalam bertindak ?
    Apa value kita ?

  • guide?
    kebenaran?
    tanya hati nurani kita. kalo hati nurani kita tidak ragu, maka itulah kebenaran 😀

Leave a Comment