Bapak saya selalu menasehati saya dan adik-adik saya untuk menyisihkan sebagian uang saku untuk ditabung sejak kami anak-anak. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak orang yang percaya bahwa receh pun bila terus dikumpulkan akan menjadi “bukit” bahkan “gunung”.
Lalu gimana donk pa, saya kan sebulan cuma dapet ga seberapa, pasti ga cukup kalo buat nabung? Ternyata baginya nabung itu ga selalu mesti seperti orang yang sudah mapan. Katanya, “jangan melihat dan membandingkan uang yang papa tabung dengan apa yang bisa kamu tabung. Karena kamu masi cupu
maka cukuplah tabung sesuai kemampuanmu, jika bersisa Rp.100 ribu misalnya, maka tetaplah tabungkan, jangan dipake yang enggak-enggak kayak taruhan sepak bola atau main biliar.” (last sentence atau kalimat terakhir hanya rekaan
) “Suatu saat tabungan itu akan sangat berguna buat kamu dan mungkin orang lain” begitu ucapnya.
Dulu saya termasuk orang yang suka sedikit ‘meremehkan’ uang receh. Jika berbelanja di warung dan mendapat kembalian uang logam Rp.50 bahkan dulu ada Rp.25, saya suka membiarkan kembaliannya. (masih katrok sih dulu waktu kecil, ga tau arti dan nilai dari uang
, sekarang masih ndeso sih dikit-dikit hehe
)
Ke-katrok-an pandangan saya terhadap uang receh langsung berubah ketika bapak pernah mengatakan kepada saya, bahwa beliau bisa membeli banyak kebutuhan sehari-hari seperti sabun, odol, shampoo, uang jajan buat adik saya yang kecil, hanya dengan uang receh hasil kembalian perbelanjaan bulan sebelumnya tanpa menyentuh gaji sedikitpun
weks..berapa karung recehannya..??
Baginya uang-uang receh tersebut sangat menyenangkan, karena tanpa menyentuh gaji, banyak kebutuhan sehari-hari bisa terbeli. Duh..tak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Entah berapa duit kembalian yang telah saya telantarkan dan mungkin cukup kalo sekedar dipake beli majalah atau koran tanpa perlu narik uang tabungan lagi.
Walau saya bercanda mengatakan “ko kayak tukang parkir ajah ngumpulin receh” namun beliau cuek ajah. Katanya si “biarin tukang parkir, yang penting punya duit. Ga kayak kamu, sok keren tapi nyatanya kere” xixixi… si bapak tau ajah
Beliau juga mengingatkan bahwa saya mesti bisa membedakan yang mana kebutuhan saya dan yang mana keinginan saya. Utamakan kebutuhan terlebih dahulu baru kemudian pikirkan keinginan, jangan sampai keinginan terpuaskan tapi kebutuhan tak bisa bayar (kebutuhan dan keinginan yang dimaksud diluar konteks birahi, please jangan ‘ngeres’ pikirannya seperti saya
)
Misal waktu saya kuliah, beliau berpesan agar sesuatu yang mesti diutamakan adalah kebutuhan sehari-hari untuk hidup dan juga keperluan untuk kepentingan kuliah. Setelah hal itu terpenuhi baru pikirkan keinginan, seperti beli buku hiburan, main biliar, jalan-jalan, dsb.
Kemudian di akhir pembicaraan, beliau selalu berpesan :
“ingatlah untuk selalu menyisihkan uang untuk ditabung” ![]()
Nabung yukkk….
